Tampilkan postingan dengan label Luar Angkasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luar Angkasa. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 Mei 2012
Senin, 19 September 2011
Tata Surya Teraneh yang Pernah Ditemukan
Posted by lihatberita |
Tim
astronom yang salah satu anggotanya adalah Dr Gavin Ramsay dari
Observatorium Armagh menemukan bukti adanya tata surya atau sistem
keplanetan yang paling aneh. Dalam tata surya tersebut, dua planet
raksasa mengitari bintang ganda bernama UZ For yang terdiri dari bintang
katai merah dan katai putih.
Hasil observasi tim astronom itu
dipublikasikan di jurnal Monthly Notices of Royal Astronomical Society
dengan judul "Possible detection of two giant extrasolar planets
orbiting the eclipsing polar UZ Fornacis". Jika kelak terbukti
kebenarannya, maka tata surya itu akan menjadi tata surya baru yang
paling aneh.
Dalam sistem bintang ganda,
dua bintang yang berpasangan akan mengitari satu sama lain. Bintang
katai merah dan katai putih pada sistem UZ For juga mengalami hal
serupa, dengan waktu revolusi hanya beberapa jam. Karena bintang satu
akan melewati muka bintang lain, dan demikian sebaliknya, maka beberapa
gerhana akan terjadi.
Sama seperti gerhana Matahari
dan Bulan, gerhana yang terjadi pada sistem keplanetan tersebut
sebenarnya bisa diperkirakan. Namun, dalam observasi, para astronom
menemukan fakta bahwa gerhana kadang terjadi terlalu dini atau terlalu
terlambat. Akhirnya, astronom berpendapat, ada dua planet yang mengitari
bintang ganda itu, membuat gerhana seolah dini atau terlambat.
Berdasarkan perhitungan, dua
planet yang mengitari bintang ganda itu setidaknya memiliki massa
masing-masing 6 dan 8 kali Jupiter. Sementara itu, waktu yang diperlukan
oleh planet untuk melakukan satu revolusi masing-masing 5 dan 16 tahun.
Sistem keplanetan ini terlalu jauh untuk secara langsung dicitrakan.
Sistem bintang ganda menjadikan
planet dalam sistem tersebut sangat tidak bisa dihuni. Bintang katai
putih secara terus-menerus mencuri material dari permukaan bintang katai
merah sehingga material seolah mengalir di angkasa bak sungai. Material
itu kemudian terpanaskan hingga jutaan Kelvin, membanjiri sistem
keplanetan dengan sinar-X yang mematikan.
Dengan fakta itu, maka tak
perlu berharap adanya planet yang memiliki kehidupan di dalam sistem
tersebut. Observasi bintang ganda dan dua planet yang kemungkinan
mengitarinya itu dilakukan dengan Southern African Large Telescop (SALT)
dan data hasil observasi selama 27 tahun dari beberapa observatorium.
Senin, 12 September 2011
Waspada, Satelit NASA Bakal Jatuh
Liputan6.com, Washington: NASA memberikan peringatan
bahwa The Upper Atmosphere Research Satellite (UARS), satelit yang
sudah mati, akan jatuh ke Bumi dalam enam pekan ke depan. Kendati
begitu, NASA belum bisa memprediksi tanggal yang tepat mengenai jatuhnya
satelit ini.
UARS adalah satelit yang diluncurkan pada tanggal 15
September 1991 oleh pesawat luar angkasa Discovery dan diperkirakan
masuk Bumi pada akhir bulan ini atau awal Oktober mendatang. Satelit ini
sudah tidak berfungsi sejak 14 Desember 2005 dan pada pada dasarnya
didesain untuk misi selama 3 tahun.
UARS mengandung senyawa kimia
yang diperoleh dari lapisan ozon, angin, dan suhu di stratosfer, serta
masukan energi dari Matahari. Satelit ini memiliki panjang 11 meter dan
diameter mencapai 4,5 meter. Seperti dikutip dari TG Daily, meski
satelit ini akan menjadi potongan-potongan terpisah saat masuk ke Bumi,
tidak semua bagian terbakar di atmosfer.
Risiko menyangkut
keselamatan publik dan beberapa bangunan yang mungkin terkena reruntuhan
dari UARS sangat tinggi. NASA mengimbau agar pihak-pihak yang menemukan
potongan satelit dari ruang angkasa ini menghindar. Semua pihak pun
diminta proaktif melaporkan kepada yang berwajib jika menemukan
potongannya.
Data terbaru menunjukkan, UARS mengorbit 155 sampai
280 kilometer dengan kemiringan 57 derajat ke arah khatulistiwa. NASA
memperkirakan bangkai satelit ini akan mendarat pada suatu tempat antara
57 derajat khatulistiwa ke arah selatan atau 57 derajat ke arah utara.
Bila benda ini tidak terbakar di atmosfer, maka akan menimbulkan
kerusakan dan kehancuran yang sangat parah terhadap beberapa bangunan di
Bumi.(NatGeo/ADO)
Rabu, 24 Agustus 2011
Mengapa Jumlah Bintang Terus Berkurang?
INILAH.COM, Jakarta - Jarang melihat bintang belakangan ini? Jumlah bintang di angkasa memang sudah berkurang. Ilmuwan menemukan penyebabnya.
Selama ini para ahli astronomi telah mengetahui bahwa jumlah bintang di angkasa terus berkurang. Bintang tua cahayanya semakin redup, sementara bintang baru tidak terbentuk
Tim ilmuwan dari Australia menemukan penyebabnya, yaitu karena berkurangnya molekul hidrogen di dalam galaksi.
Dr. Robert Braun dari CSIRO menggunakan radio teleskop Mopra di New South Wales untuk membandingkan galaksi-galaksi. Ia menemukan galaksi baru mengandung lebih banyak molekul gas hidrogen dibanding galaksi lama.
"Hasil temuan ini membantu kita memahami mengapa sekarang bintang tak bersinar lagi," ujar Braun seperti dikutip dari TGdaily.
Bintang terbentuk dari awan berisi debu dan gas yang sangat besar dan bersinar karena ada proses pembakaran hidrogen menjadi helium. Ketika hidrogen habis, tekanan akan menurun, dan bintang pun lama-kelamaan mati.
Lalu kemapa jumlah hidrogen berkurang?
Menurutnya, berkurangnya gas hidrogen dan formasi bintang kemungkinan mulai terjadi sejak ukuran jagat raya semakin cepat berkembang, dan galaksi-galaksi jadi kesulitan menangkap gas. [mor]
Langganan:
Postingan (Atom)









